kimono…dan gothic

Tentu semua orang tau bahwa pakaian tradisional ala jepang “Kimono” menggambarkan keanggunan wanita jepang.Tapi bagaimana jika kimono dipadankan dengan dandanan gothic atau harajuku.

Kalo dari Stasiun Tokyo, ambil Yamanote Line. Turun di Shibuya Eki. Dan mulailah berjalan kaki ke utara ke arah Shinjuku, lewat lorong2 kecil sampai Stasiun Harajuku. Jangan lupa masuk ke Takeshita Doori, di seberang Harajuku Eki. Di situ mungkin akan banyak geleng2 kepala sambil senyum2. Dan jangan lupa pula ke Omotesando Doori. Di sana kepala kita pun akan geleng, mungkin sambil keluar bunyi “ck..ck” dari mulut. Suasananya banyak pohon seperti di Jonjenji Doori, Sendai. Kafe dan butik2 mewah banyak bertaburan di sana. Keluar dari situ berjalanlah terus ke utara, ke arah Oyama Doori. Menarik untuk mengamati banyaknya bangunan2 karya arsitek2 ternama dunia di sana. Apalagi kawasan2 menjanjikan investasi seperti Omotesando (komersial), Shiodome, Marunouchi (Perdagangan, jasa) dan lainnya akan terus jadi kawasan peremajaan dan optimalisasi lahan.

Beberapa bulan lalu juga baca langsung dari Nekkei Architecture, memang ada beberapa spot wilayah di luar inner Tokyo, seperti Odaiba atau Minato-ku yang langsung dekat dengan pelabuhan Tokyo akan disulap menjadi kawasan “urban regeneration” yang lain, ya semacam peremajaan/optimalisai kembali ruang2 kota di situ. Biasanya proyek2 barunya memang bangunan pencakar langit (efisiensi lahan). Ini mungkin yang masih jadi perdebatan.

Selanjutnya mengutip laporan METI (Kementrian Ekonomi, Perdagangan dan Industri) untuk data daerah Tohoku Jepang. Dikatakan datanya hampir mirip dengan wilayah2 Chubu, Fukuoka, Shikoku (di luar daerah di Tokyo (Kantou), Osaka (Kansai), dan Nagoya (Kinki), punya data shuushoku/pekerjaan dari para fresh graduate (lulusan SMA/S1/S2) yang menarik. Secara umum lulusan2 ini 1/4nya meneruskan ke jenjang lebih tinggi. dari 3/4 yang bekerja, 1/5 adalah bekerja di daerahnya. 80% lainnya “lari” ke 3 daerah itu. Wabil khusus, golongan “daigakuinsotsugyousha” 2/3 adalah bekerja di luar daerahnya (daerah kelahiran atau universitas di mana mereka lulus). Tak pelak lagi ketiga daerah itu, terutama di Tokyo dan sekitarnya (Chiba, Saitama, Yokohama) dari taun ke taun penduduknya selalu meningkat. Tanah juga dirasa kurang terus. Sangat berkebalikan dengan “daerah” penyuplai yang makin lama makin kurang (termasuk Tohoku ini).

Jepang, bagaimana pun, memana masih saja bingung dengan pembangunan “tak sengaja” sentralistiknya, terutama efek ekonomi daerah yang sangat besar tergantung dari pasokan peran swasta (soalnya desentralisasi juga terus secara konsisten dilakukan).

“Mengekspor Mode dari Harajuku”
Kompas, 16 April 2006

Jepang telah menginspirasi gaya hidup melalui produk elektronik yang mereka hasilkan: walkman hingga mobil. Mereka juga menginspirasi dunia mode sejak tahun 1970-an ketika Hanae Mori, Kenzo Takada, Issey Miyake, Yohji Yamamoto, dan Rei Kawabuko, untuk menyebut beberapa nama, meninggalkan negeri mereka dan bermukim di Paris.

Keterpesonaan dunia pada Jepang belum sirna hingga kini. Kimono berulang kali menjadi sumber inspirasi, lalu geisha dan rias wajah mereka yang khas, hingga dunia animasi (anime) dan komik (manga), yang bukan saja menginspirasi gaya berbusana, tetapi juga rias wajah dan rambut. Ketika Spirited Away memenangi penghargaan Oscar, nama Hayao Miyazaki sebagai pembuat anime mendapat pengakuan dunia. Dan ini menunjukkan bahwa anime Jepang dapat diterima di luar negerinya sendiri.

Ketika para desainer itu memberi pengaruh pada dunia melalui rancangan yang kental dengan estetika negeri asal mereka・Hanae Mori, misalnya, menggunakan kimono sebagai dasar untuk mengembangkan gaun malam ala Barat atau seniman patung dan print Takashi Murakami menggunakan motif bunga sakura pada tas Louis Vuitton di Jepang juga ada anak-anak muda yang sangat sadar mode.

Mereka tak hanya ingin menjadi pengikut, tetapi menciptakan gaya mereka sendiri. Orang-orang muda seperti mereka sebetulnya ada di setiap tempat, yaitu mereka yang berani melangkah di luar arus utama. Tetapi, di Jepang, di mana masyarakatnya sangat patuh pada aturan komunal, pilihan untuk memiliki gaya sendiri pastilah diambil dengan
kesadaran kuat untuk menjadi diri sendiri.

“Supermarket of Style”

Tempat yang sering disebut sebagai tempat di mana orang muda ini berkumpul adalah Distrik Harajuku di Tokyo. Di kawasan itu terdapat jalan panjang yang sangat terkenal, Omotesando. Di sini terletak toko-toko barang mode bermerek, seperti Gucci, Zara, dan toko mainan anak-anak paling terkenal di Jepang, Kiddieland.

Omotesando sangat terkenal sebab menjadi tempat anak-anak muda berkumpul dan mengekspresikan diri mereka pada hari Minggu ketika jalan itu ditutup untuk kendaraan. Di sepanjang jalan kita bisa melihat kelompok- kelompok anak muda dalam dandanan kelompok mereka. Ada yang bergaya gotik, punk, bikers, dan sebagainya.

Kawasan Harajuku ini begitu terkenal sehingga Gwen Stefani memasukkan lagu Harajuku Girls dalam album solo pertamanya, Love, Angel, Music, Baby. Stefani menggunakan empat penari latar dalam klip videonya yang didandani dengan harapan mewakili gaya jalanan gadis Harajuku.

Salah satu gaya berbusana yang menurut Ted Polhemus, seorang pengamat gaya berbusana dan gaya hidup jalanan, dari anak muda Jepang yang memengaruhi dunia adalah apa yang disebut Supermarket of Style.

Gaya ini muncul dari Jepang pada awal 1990-an di mana gaya berbusana jalanan dari Barat dan setidaknya 50 subbudaya Barat selama 50 tahun telah menjadi obsesi dan sumber inspirasi mereka.

Obsesi pada subbudaya Barat: gaya jalanan itu juga tampak di Omotesando pada sebuah hari Minggu sektiar 10 tahun lalu. Dengan membawa tape recorder, sekelompok anak muda memutar lagu-lagu dari Saturday Night Fever dan mereka menari berpasangan di jalan yang ditutup untuk kendaraan umum. Mereka berdandan dalam busana tahun 1950-an dengan gaun sepanjang tengah betis yang rok kloknya melebar dan dipadu kardigan, dalam warna merah dan putih.

Di sudut yang lain, sekelompok perempuan muda mengecat rambut mereka dalam aneka warna dan rias mata dominan hitam, sementara tubuh mereka juga dibalut baju hitam dengan sepatu bot hitam.

Dan ketika kini ada anak-anak muda di Bandung dan mungkin juga beberapa kota lain meniru rekan-rekan mereka di Jepang dengan menjadi cosplay gabungan dari kata bahasa Inggris costume dan play, cara berbusana yang di sana awalnya mengikuti tokoh anime, manga, permainan video, grup band, dan belakangan lebih berarti orang yang memakai kostum sementara anak-anak muda terobsesi pada subbudaya Barat, ini semakin menegaskan dunia tak lagi mengenal batas

Nah lo kira kira cocok gak yah kalo pakaian traditional indonesia yaitu kebaya dipadukan dengan dandanan gothic???selamat berkreasi dengan gaya baru.

created by “Donna Herlina”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: